RSS

Penghormatan Terhadap Ilmu dan Guru

17 Jan

Para pelajar tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaatnya, tanpa mau menghormati ilmu dan guru.

Karena ada yang mengatakan bahwa orang-orang yang telah berhasil mereka ketika menuntut ilmu sangat menghormati tiga hal tersebut. Dan orang-orang yang tidak berhasil dalam menuntut ilmu, karena mereka tidak mau menghormati atau memuliakan ilmu dan gurunya. Ada yang mengatakan bahwa menghormati itu lebih baik daripada mentaati. Karena manusia tidak dianggap kufur karena bermaksiat. Tapi dia menjadi kufur karena tidak menghormati atau memuliakan perintah Allah.

Sayidina Ali karramallahu wajhah berkata, “Aku adalah sahaya (budak) orang yang mengajarku walau hanya satu huruf, jika dia mau silahkan menjualku, atau memerdekakan aku, atau tetap menjadikan aku sebagai budaknya.”

Ada sebuah syair yang berbunyi, “Tidak ada hak yang lebih besar kecuali haknya guru. Ini wajib dipelihara oleh setiap orang Islam. Sungguh pantas bila seorang guru yang mengajar, walau hanya satu huruf, diberi hadiah seribu dirham sebagai tanda hormat padanya. Sebab guru yang mengajarmu satu huruf yang kamu butuhkan dalam agama, dia ibarat bapakmu dalam agama.”

Imam Asy-Syairazy berkata, Guru-guruku berkata, “Barangsiapa yang ingin anaknya menjadi orang alim, maka dia harus menghormati para ahli fiqih. Dan memberikan sedekah pada mereka. Jika ternyata anaknya tidak menjadi orang alim, maka cucunya yang akan menjadi orang alim.”

Termasuk menghormati guru ialah, hendaknya seorang murid tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, dan tidak memulai bicara padanya kecuali dengan ijinnya.

Hendaknya tidak banyak bicara di hadapan guru. Tidak bertanya sesuatu bila guru sedang capek atau bosan. Harus menjaga waktu. Jangan mengetuk pintunya, tapi sebaliknya menunggu sampai beliau keluar.

Alhasil, seorang murid harus mencari kerelaan hati guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan ia murka, mematuhi perintahnya asal tidak bertentangan dengan agama, karena tidak boleh taat pada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah. Termasuk menghormati guru adalah menghormati putra-putranya, dan orang yang ada hubungan kerabat dengannya.

Guru kami Burhanuddin, pengarang kitab Al-Hidayah bercerita bahwa salah seorang pembesar negeri Bukhara duduk dalam suatu majlis pengajian, di tengah-tengah pengajian, dia sering berdiri. Lalu oleh teman-temannya ditanya mengapa berbuat demikian. Dia menjawab, sungguh putra guruku sedang bermain di jalan oleh karena itu jika aku melihatnya aku berdiri untuk menghormatinya.

Al Qadhi Fahruddin adalah seorang imam di daerah Marwa yang sangat dihormati oleh para pejabat negara.

Beliau berkata, “Aku mendapat kedudukan ini karena aku menghormati guruku, Abi Yazid Addabusi. Aku selalu melayani beliau, memasak makanannya, dan aku tak pernah ikut makan bersamanya.”

Pada suatu hari Imam Halwani pergi dari Bukhara, bermukim di sebuah desa selama beberapa hari, karena ada satu masalah yang beliau hadapi, kemudian semua muridnya menjenguk beliau, kecuali yang bernama Abu Bakar. Lalu ketika bertemu Abu Bakar beliau bertanya, “Mengapa kamu tidak ikut menjengukku?” dia menjawab, “Maaf guru, saya sibuk melayani ibuku.” Lalu beliau berkata, “Semoga kamu diberi panjang umur, tapi kamu tidak akan diberi ketenangan dalam mengaji.” Kenyataannya kata-kata guru tersebut betul-betul terjadi. Abu Bakar tinggal di desa sepanjang waktunya.

Oleh karena itu seorang murid tidak boleh menyakiti hati gurunya, karena belajar dan ilmunya tidak akan diberi berkah. Kata seorang penyair, “Sungguh guru dan dokter keduanya tidak akan menasihati kecuali bila dimuliakan. Maka rasakan penyakitmu jika pada dokter, dan terimalah kebodohanmu bila kamu membangkang pada guru.”

Dikisahkan bahwa khalifah Harun Ar-Rasyid mengirim putranya kepada ustadz Ashmu’i supaya diajari ilmu dan akhlak yang terpuji. Kemudian pada suatu hari Harun Ar-Rasyid melihat Ashmu’i sedang wudhu membasuh kakinya dengan air yang dituangkan oleh putra khalifah. Melihat hal itu, Harun Ar-Rasyid menegurnya, “Aku kirim anakku kepadamu supaya kamu ajari ilmu dan budi pekerti, lalu mengapa tidak kamu perintah dia untuk menuangkan air dengan tangan kiri supaya yang kanan bisa membasuh kakimu?”

Termasuk menghormati ilmu ialah menghormati kitab. Seorang santri dilarang memegang kitab kecuali dalam keadaan suci. Imam Syamsul A’immah Al Halwani berkata, “Aku memperoleh ilmu ini karena aku menghormatinya. Aku tak pernah mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci.” Imam Sarkhasi pernah sakit perut, namun beliau tetap mengulang-ulang belajarnya, dan berwudhu, sampai tujuh belas kali pada malam itu, karena beliau tidak mau belajar kecuali dalam keadaan suci. Ilmu itu adalah cahaya, dan wudhu juga cahaya. Sedangkan cahaya ilmu tidak akan bertambah kecuali dengan berwudhu.

Para penuntut ilmu dilarang meletakkan kitab di dekat kakinya ketika duduk bersila. Hendaknya kitab tafsir diletakkan di atas kitab-kitab lain, dan hendaknya tidak meletakkan sesuatu di atas kitab.

Guru kami, Burhanuddin bercerita bahwa ada seorang ahli fiqih meletakkan wadah tinta di atas kitab, lalu beliau berkata kepadanya, “Anda tidak akan memperoleh manfaat dari ilmumu.”

Imam Qadhikhan berkata, “Jika perbuatan itu (meletakkan wadah tinta di atas kitab) tidak bermaksud meremehkan kitab tersebut, maka tidak apa-apa, tapi sebaiknya diletakkan di tempat lain.”

Santri harus bagus dalam menulis kitabnya. Tulisannya harus jelas. Tidak terlalu kecil sehingga sulit dibaca.

Abu hanifah pernah melihat muridnya yang tulisannya sangat kecil-kecil sehingga tidak jelas, lalu beliau menegurnya, “Jangan terlalu kecil dalam menulis, karena jika kamu sudah tua, pasti menyesal. Dan bila kamu mati, kamu akan dimaki orang yang melihat tulisanmu.”

Yakni jika kamu sudah tua dan pandangan matamu sudah lemah, maka kamu akan menyesali perbuatanmu itu.

Seharusnya kitab itu dibentuk persegi empat, begitu yang biasa dikerjakan oleh Imam Abu Hanifah. Supaya mudah dibawa dan dibaca.

Seharusnya tidak memakai tinta merah dalam menulis kitab, karena hal itu kebiasaan filosof, bukan kebiasaan ulama salaf. Bahkan guru kami ada yang tidak mau memakai kendaraan berwarna merah.

Termasuk menghormati ilmu adalah menghormati teman dan orang yang mengajar. Para santri harus saling mengasihi dan menyayangi, apalagi kepada guru, supaya ilmunya berfaedah dan diberkati.

Hendaknya para panuntut ilmu mendengarkan ilmu dan hikmah dengan rasa hormat, sekalipun sudah pernah mendengarkan masalah tersebut seribu kali.

Ada yang berkata, “Siapa yang tidak menghormati atau memperhatikan satu masalah, walaupun ia pernah mendengarnya seribu kali, maka dia bukan termasuk ahli ilmu.”

Seorang santri tidak patut memilih bidang ilmu sendiri, tapi harus menyerahkannya kepada guru. Karena guru lebih tahu mana ilmu yang cocok dengan watak atau kecenderungan muridnya.

Syaikh Burhanul Haqqi berkata, “Pada zaman dahulu para santri itu menyerahkan agar persoalan mengajinya kepada guru mereka, berhasil meraih cita-citanya.”

Berbeda dengan sekarang para murid selalu memilih pengajiannya sendiri, akibatnya mereka tidak berhasil meraih ilmu yang dicita-citakan.

Dikisahkan bahwa Muhammad bin Ismail Al Bukhari, memulai mengaji dari bab Shalat di hadapan Muhammad bin Al Hasan. Lalu gurunya itu berkata, “Pergilah dan belajarlah ilmu hadits.” Gurunya berkata begitu karena gurunya tahu tabiat dan kecenderungan Imam Bukhari. Dan dia pun menuntut ilmu hadits, akhirnya dia menjadi pelopor seluruh imam ahli hadits.

Santri tidak patut duduk dekat gurunya ketika mengaji kecuali darurat. Tapi sepatutnya ada jarak antara santri dan guru, kira-kira sepanjang busur panah, hal ini semata-mata untuk menghormati guru.

Santri harus meninggalkan akhlak yang tercela, karena akhlak tercela itu ibarat anjing yang samar.

Rasulullah SAW bersabda, “Malaikat tidak mau memasuki rumah yang ada gambar atau anjing.” Padahal, manusia belajar itu melalui perantara malaikat.

Mengenai akhlak yang tercela ini bisa dilihat dalam kitab-kitab yang menerangkan akhlak, karena kitab ini tidak memuat hal itu. Jadi para santri harus menjauhi akhlak yang tercela, lebih-lebih sifat sombong. Seorang penyair berkata, “Ilmu adalah musuh orang yang congkak atau sombong, sebagaimana banjir menjadi musuh daratan tinggi.”

Dikatakan: “Kemuliaan itu datang bukan karena usaha, tapi karena karunia Allah. Banyak budak yang menempati tempat orang merdeka (mulia), dan banyak pula orang merdeka yang menempati kedudukan budak (hina).”

 

Dikutip dari:

Az-Zarnuji. (2009). Terjemah Ta’lim Muta’allim. Surabaya: Mutiara Ilmu.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Januari 2012 in Ta'alim Muta'allim

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: